Kamis, 06 September 2012

DEWI SARTIKA ^--^

Dewi Sartika  lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 dan wafat di Cineam, Tasikmalaya pada 11 September 1947.  Dewi Sartika wafat saat sedang mengungsi di Desa Rahayu, Kecamatan Cineam, Tasikmalaya. Ketika itu Wilayah Republik Indonesia diserang oleh tentara NICA - Belanda pada peristiwa agresi militer I Belanda tahun 1947.
Kedua orangtua Dewi Sartika, Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Raja Permas, dibuang Pemerintah Hindia Belanda ke Ternate karena tuduhan memberontak pada Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1893.  Sebelum dibuang ke Ternate,  Raden Rangga Somanagara adalah seorang Patih di Bandung.  Patih itu jabatan di pemerintahan lokal satu level di bawah Bupati, kira-kira setara jabatan Sekretaris Daerah atau Wakil Bupati zaman sekarang. Dengan dibuangnya sang ayah sebagai pemberontak, Dewi Sartika tidak melanjutkan lagi sekolahnya setelah kelas tiga di Lagere School.
Kiprah di dunia pendidikan beliau mulai sejak 1902 dengan mengajarkan membaca, menulis, memasak dan menjahit bagi kaum perempuan di sekitarnya.  Pada 16 Juli 1904 Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri atau Sekolah Perempuan, Tahun 1914 Sakola Istri diubah namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri atau Sekolah Keutamaan Perempuan.  Pada tahun 1929 Sakola Kautamaan Isteri diubah namanya menjadi Sakola Raden Dewi.  Selain tersebar di kota kabupaten Pasundan, Sakola Kautamaan Istri sempat pula menyebar ke luar pulau Jawa.
Pemerintah Hindia Belanda pada 16 Januari 1939 memberi bintang jasa kepada Dewi Sartika atas jasanya memajukan pendidikan kaum perempuan.  Penghargaan pemerintah kolonial menunjukan bahwa perjuangan Dewi Sartika dilakukan secara koperatif, bukan perjuangan yang diramaikan dengan dar der dor suara senapan.   Selanjutnya Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1966 mengakui Raden Dewi Sartika sebagai pahlawan nasional.
Untuk perempuan yang hidup pada abad ke 19 sungguh luar biasa aktivitas Raden Dewi Sartika ini, yaitu mengajar dan mendirikan sekolah.  Pada saat Insinyur Soekarno baru belajar berjalan dan belum lancar bicara, Dewi Sartika sudah berinisiatif mengajar membaca, menulis dan keterampilan yang harus dimiliki seorang wanita.  Pada saat Bung Hatta baru berusia dua tahun, Dewi Sartika sudah mendirikan sekolah untuk kaum perempuan.  Visi beliau benar-benar melampaui zamannya.
Patutlah kita kenang Dewi Sartika sebagai pahlawan pendidikan bangsa, setara dengan orang Indonesia yang dar ..der…dor .. mengangkat senjata, atau berdiplomasi, bersilat lidah mempertahankan kemerdekaan melalui jalur perundingan.   Bentuk penghargaan lainnya adalah penamaan jalan Dewi Sartika, diantaranya di Bandung, Bogor, Bandar Lampung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Samarinda, Palu  dan Jakarta.

Kamis, 30 Agustus 2012

Sjafruddin Prawiranegara Belum Diakui

Jakarta, Kompas - Mantan Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) adalah pahlawan nasional yang tidak diakui. Ketua DPR Marzuki Alie dalam peluncuran buku Mr Sjafruddin Prawiranegara Pemimpin Bangsa dalam Pusaran Sejarah di Jakarta, Sabtu (15/10), mengatakan, mantan Presiden PDRI dan Menteri Keuangan tersebut sangat layak menjadi pahlawan nasional.
”Sjafruddin menjadi presiden ketika Soekarno-Hatta ditangkap Belanda lalu diasingkan ke Bangka. Sjafruddin juga menjadi simbol perlawanan daerah atas kesewenang-wenangan pemerintah pusat,” kata Marzuki.
Menurut Marzuki, perlawanan yang diwujudkan dalam PRRI-Permesta itu membuat stigma pada Sjafruddin, yang pada 1950-an berjasa membuat kebijakan ekonomi untuk menjaga agar negara tidak bangkrut.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah, AM Fatwa, menegaskan, keberadaan PDRI dengan Bukit Tinggi sebagai ibu kota terlupakan dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. ”Kita harus berdamai dengan sejarah. Sjafruddin Prawiranegara muncul di saat Indonesia dalam keadaan kritis dan berani mengambil risiko,” kata Fatwa.
Bagir Manan
Pada hari yang sama di Universitas Padjadjaran, Bandung, juga diluncurkan buku 70 Tahun Prof Dr H Bagir Manan, SH, MCL dan Negara Hukum yang Berkeadilan yang ditulis Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat. Ketua Mahkamah Agung Harifin A Tumpa mengatakan, Bagir Manan, mantan Ketua MA yang kini Ketua Dewan Pers, adalah salah seorang penggagas dan peletak dasar Cetak Biru MA yang diterbitkan pertama kali tahun 2003.
Menurut Harifin, cetak biru itu merupakan titik awal terbukanya perubahan di MA yang tidak saja melibatkan pihak-pihak internal pengadilan, tetapi juga membuka diri terhadap masukan dan dukungan oleh banyak pihak yang tidak mengikat. Hal penting dan bersejarah lain bagi peradilan di republik ini saat Bagir Manan menjabat Ketua MA 2001-2008 adalah dilakukannya restrukturisasi dan reorganisasi badan peradilan.
Pada peluncuran buku bersamaan dengan perayaan ulang tahun 70 itu hadir sejumlah tokoh nasional, antara lain mantan Wapres Jusuf Kalla, Adnan Buyung Nasution, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, serta Menakertrans Muhaimin Iskandar. Jusuf Kalla melihat, Bagir Manan tokoh yang lengkap dalam bidang hukum. (ONG/DMU)